Monday, 8 May 2017

SEJARAH PULAU TENGAH : TARI NGAGAH HARIMAU NOMINASI ATRAKSI BUDAYA TERPOPULER 2017

Menghibur Roh Harimau

Di Pulau Tengah ada tradisi memanggil arwah harimau. Manusia dan harimau hidup berdampingan dengan damai.

”uuu…nek moyang tingkaih, ngak bugle mangku gunung rayo
”uuu…nek sarintak ujoa panah, ngak bugle panglimo tangkaih
”uuu…hulubaloa tigea, badoa sebatoa wujudnya tigea

INILAH mantra Ngagah Harimau. Sebuah upacara kematian untuk harimau. Di Pulau Tengah, yang letaknya di tepi Danau Kerinci, ada tradisi unik. Warga turun-temurun sangat menghormati harimau. 

Harimau bahkan diberi panggilan khusus: Ninek atau Tuo. Artinya makhluk yang dituakan.
Pertalian batin antara harimau dan manusia di Pulau Tengah sudah berlangsung lama. Harimau dipercaya akan membantu menunjukkan jalan pulang jika ada penduduk kampung yang tersesat di rimba. Sejak dulu tidak ada orang Pulau Tengah yang memburu harimau. Bahkan, bila ada durian jatuh, harimau akan lebih dahulu dipersilakan mengambil bagiannya. 

”Ngagah artinya menghibur roh harimau yang mati, agar harimau lain tidak mengganggu kami,” (Harun Pasir, 67 tahun), seorang seniman Pulau Tengah. Dari informasi Harun Pasir upacara Ngagah Harimau terakhir diadakan lima tahun lalu, saat ada harimau yang mati karena berkelahi dengan warga. Harimau itu memakan anjing, lalu pemilik anjing dengan tongkat kayu berkelahi dengan harimau, sesuatu yang berakhir dengan kematian harimau. 

Harimau yang mati ditutup kain putih, ditandu ke Balai Adat. Di situ dibuat tempat yang tinggi untuk meletakkan harimau yang ditegakkan seolah-olah masih hidup. Terawak, alat bebunyian dari tempurung untuk menjemput roh harimau, dipukul. 

Terawak dilekatkan ke tanah. Diyakini harimau berkuping tanah, pendengarannya melalui tanah yang dipijaknya.
Kain putih penutup muka harimau dibuka, lalu di dekat harimau diletak-kan satu per satu benda untuk bayar bangun yang prinsipnya hilang belang diganti belang, hilang taring diganti taring, hilang ekor diganti ekor, hilang mata diganti mata. Dalam ritual itu taring diganti dengan keris, kuku diganti dengan sebilah pedang, ekor diganti dengan tombak, suaranya diganti dengan pukulan gong, warna matanya dengan benda keras yang berkilat seperti kelopak betung (pelepah bambu bagian dalam), belangnya diganti warna kain. 

Harimau yang mati kemudian diarak ke kampung. Pada saat mengarak, semua warga desa berlomba memperagakan silat pisau dan silat pedang serta gerakan tarian yang mirip gerakan harimau. ”Hina rasanya bagi orang yang tidak ikut mengarak harimau ke kampung,” kata Harun. 

Di depan harimau, para pemuda lalu berebutan ngagah (membujuk arwah harimau) dengan memainkan pedang, silat dengan gerakan harimau, dan menari-nari. ”Saat itu banyak yang kesurupan. Ada yang memekik, meraung, dan mengaruk tanah seperti harimau. Bahkan orang yang tidak bisa bersilat pun ikut menari dengan gerakan silat harimau. Lalu banyak yang bergelimpangan tidak sadar,” kata Harun. 

Setelah upacara selesai, harimau dikuburkan di pinggir kampung. Selama hidupnya, baru dua kali Harun mengalami ritual Ngagah Harimau. Ia khawatir, suatu saat ritual ini tidak ada lagi yang tahu. Jika dalam sepuluh sampai seratus tahun tidak ada harimau mati, upacara semacam ini bisa hilang. Kare-na itu sejak tahun 1970-an Harun membuat sanggar kecil untuk mengajarkan bagaimana ritual Ngagah Harimau dilakukan. 

Sumber budayawan Pulautengah : HARUN PASIR
Share:

0 comments:

Post a Comment

KPU KOTA SUNGAIPENUH

KPU KOTA SUNGAIPENUH

Blog Archive

Support

iklan banner iklan banner