Friday, 8 September 2017

WWF Indonesia Kerjasama KPH Produksi Unit Model Kerinci Kembangkan Potensi Pariwisata Berkelanjutan di Kerinci




Lacaknews.net Sungai Penuh – Kabupaten kerinci adalah kabupaten yang memiliki berbagai sumber daya alam. Mulai dari hutan, danau, air terjun hingga pertanian dan perkebunan. Setidaknya, kabupaten yang terletak berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kerinci. KPHP Kerinci sendiri memiliki wilayah kelola seluas ± 36.000 ha.
Meski begitu, kini aktivitas pemanfaatan kawasan hutan tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang terlarang dalam perspektif konservasi. Karena,konservasi merupakan sinergisitas dari perlindungan, pemanfaatan dan pengawetan. Selama pemanfaatan fungsi kawasan tetap menyeimbangkan ekosistem dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar kawasan. Pada hakikatnya, kesejahteraan masyarakat, terutama yang ada di sekitar kawasan hutan juga harus meningkat. Sehingga peran sentral masyarakat di sekitar kawasan hutan menjadi penting untuk ditingkatkan. Salah satunya adalah dengan konsep pengelolaan hutan yang relevan dengan jalannya pengelolaan hutan dan pembangunan daerah dengan pengembangan pariwisata yang keberlanjutan (sustainable tourism).

“Penerapan pariwisata berkelanjutan di kawasan hutan akan berdampak positive, tidak saja bagi kawasan hutan melainkan juga pada kesejahteraan ekonomi – social masyarakat sekitar hutan, dimana kawasan hutan tidak lagi di ekstratif melainkan dimanfaatkan dan lestarikan fungsi jasa-nya (red. Jasa lingkungan),” demikian ujar Angga Prathama, Specialist Sustainable forest management (SFM)/KPHWWF Indonesia Program RIMBA MCAI kepada wartawan usai melakukan Dialog Publik di Kerinci, Rabu (30/8) siang.

Dari hasil studi Potensi Pengembangan Wisata Berkelanjutan yang dilakukan WWF Indonesia hasil kerjasama dengan KPH Produksi Unit Model Kerinci pada 2017 ini, ada beberapa potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata dikawasan KPHP yang didukung oleh Millenium Challenge Corporation – Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia, diantaranya air terjun, pemandangan lansekap dan area tracking dikawasan hutan.

Sebutlah air terjun Pancoran Rayo yang berada di 7 desa, yaitu Desa Dusun Baru,Desa Jembatan Merah, Desa Koto Tuo, Desa Pulau Tengah, dan Desa Koto Dian, Desa Limok Manai, Desa Telago, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci. Dengan ketinggian air terjun sekitar 100 m dan dikelilingi hutan yang asri, sungai dengan air yang jernih dan tebing disekeliling air terjun,merupakan kombinasi keindahan yang begitu menarik.

Rawa Bento terletak pada ketinggian 1.375 mdpl, tidak seperti rawa bisanya yang banyak dijumpai di dataran rendah. Keunikannya adalah, rawa ini bukan merupakan rawa air payau melainkan rawa air tawar. Kawasan rawa ini luasnya kurang lebih 1.000 Ha dan memiliki ekosistem yang terdiri dari rumput rawa gambut, hutan rawa kerdil serta danau rawa kecil. Di sepanjang tepi sungai dan danau nya dapat ditemukan tumbuhan bento (Leersea hexandra), enceng gondok (Eichormia crasipes) dan kayu apu (Pistia stratiotes). Bila beruntung, saat cuaca cerah Gunung Kerinci dapat dilihat dari Rawa Bento.

Hutan Lengkuk 50 Tumbi Lempur, lokasinya berjarak sekitar 45 km dari kota Sungai Penuh. Hutan KPHP di Lempur ini memiliki luas total 2.616,65 Ha. Samahalnya dengan dua lokasi lainnya, lokasi hutan di Lempur ini berbatasan dengan kawasan TNKS. Lokasi hutan ini tepatnya berada di antara hutan adat dan kawasan TNKS.dalam perjalanan di kawasan hutan (tracking) dapat ditemukan air terjun Seluang Bersisik Emas Lempur. Air terjun ini merupakan panorama alam yang terletak di kawasan Gunung Batuah dengan ketinggian 950 m dpl.

Salah satu kawasan wisata yang sudah berkembang adalah kawasan hulu Air Lempur sebagai kawasan yang dilindungi karena di dalamnya terdapat hutan adat, di dalamnya terdapat potensi wisata. Wilayah berada pada hutan alam, ekosistemnya serta sejumlah aspek budaya terkait dengan eksistensinya sebagai kawasan adat/budaya Masyarakat Lekuk 50 Tumbi (Lempur).

Potensi-potensi ini merupakan keunggulan komparatif yang dimiliki kawasan hulu Air Lempur yang dapat dikemas dan dijadikan sebagai produk andalan ekowisata Masyarakat Lekuk 50 Tumbi (Lempur).

Potensi obyek dan daya Tarik wisata yang terdapat di Kawasan Hulu Air Lempur menurut Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci pada 2010 lalu,  antara lain berupa Danau Lingkat Lempur. Danau ini merupakan danau yang terletak di pinggiran hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan bersebelahan dengan Hutan Adat Gunung Batuah. Kawasan sekitar danau ini tumbuh beberapa jenis alga air sehingga warna Danau Lingkat ini berwarna hijau tua. Danau Lingkat juga merupakan rawa pegunungan sehingga banyak ditemukan tumbuhan Nepenthes dipinggiran danau. Danau Lingkat terletak pada ketinggian 950 mdpl dengan kemiringan lereng mencapai 15-40%.

Selain itu juga ada Danau Kecik Lempur yang memiliki ketinggian 930 mdpl dan kelerengan 15-40%. Lalu, ada Danau Duo terletak sekitar 1.500 mdpl, termasuk danau tertinggi di Sumatera. Menariknya, Danau Duo ini tidak berhulu dan bermuara. Ada pula, Danau Nyalo yang merupakan tempat singgah burung belibis liar. Airnya terlihat menyala kemerahan karena didalamnya hidup koloni lintah.

Setidaknya pengembangan dan pengelolaan kawasan hutan untuk pariwisata tidak bisa terbatas pada sekat batas administrasi wilayah, melainkan perlu ada intergrasi dari semua pemangku kawasan hutan serta sektoral di pemerintahan sehingga pengelolaan wisata berkelanjutan dapat dicapai sebagai visi bersama di Kabupaten Kerinci.

Kepala KPHP Unit Model Kerinci, Neneng Susanti mengatakan hasil kajian ini akan ditindaklanjuti dengan berbagai program yang menguatkan masyarakat sekitar untuk menjadi masyarakat pariwisata. “Dengan begitu, hutan tidak dipandang sebagai kawasan eksploitasi kayu saja. Tapi ada banyak potensi kawasan hutan yang dapat dimanfaatkan, tetapi tetap menjaga kelestariannya,” sebut Neneng.

Tentu saja berbagai potensi wisata lainnnya juga masih tersedia. Seperti budaya, produksi pertanian dan perkebunan. Dari mulai adat dan tradisi local hingga kopi serta madu. Kopi misalnya, dari daerah ini dikenal dengan nama Kopi Danau Kaca.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

Support

iklan banner iklan banner