Wednesday, 11 October 2017

Kirana Pungki Apsari: PERLINDUNGAN SATWA LANGKA DI KERINCI

Kirana Pungki Apsari

OLEH : Kirana Pungki Apsari
GADIH KINCAI 2015

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menyimpan kekayaan Flora dan Fauna yang langka yakni diantaranya Pinus Kerinci (Pinus Merkusi Strain Kerinci), Bunga Rafflesia (Rafflesia Arnoldi), gajah sumatera, macan dahan, tapir, harimau sumatera dan beruang madu yang diabadikan menjadi sebuah tugu di Kersik Tuo, Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi. Yang disebut oleh masyarakat sebagai tugu macan yang terletak di gerbang masuk gunung kerinci.

Kini Flora dan Fauna yang dilindungi dari ancaman kepunahan hanya sekedar daftar, hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya penebangan hutan secara ilegal, perburuan dan rusaknya habitat alami, tanpa kita sadari sebetulnya kita sudah mengurangi jumlah kehidupan satwa, seperti masyarakat yang tidak mempunyai hak membunuh satwa yang dilindungi menepis pula binatang tersebut akan membahayakan masyarakat.

Jika kita mampu  berpikir secara rasional penyebab dari keluarnya satwa dari hutan ke pemukiman warga  adalah sebab akibat dari perbuatan manusia itu sendiri yang merusak habitat asli satwa yang dilindungi tersebut minsalnya dengan pembukaan jalan, sangat berpengaruh terhadap kelestarian keanekaragaman satwa yang ada di dalamnya, dengan demikian pembukaan jalan tanpa perencanaan yang panjang akan berdampak yang buruk minsalnya banjir, tanah longsor, dan menyebabkan berbagai satwa yang dilindungi akan menganggu aktivitas masyarakat.

Beberapa waktu ini sangat hangat sekali diperbincangkan di sosial media yang menginformasikan bahwa telah terjadi pembunahan terhadap beruang madu (Helarctos malayanus) di kerinci, merupakan jenis beruang paling kecil di dunia, habitatnya adalah hutan tropis namun kini  semakin jarang ditemukan akibat rusak habitat aslinya, semestinya pembunuhan terhadap beruang ini tidak perlu terjadi jika telah terjadi sinergitas antara dinas terkait dengan masyarakat.

Terkait permasalahan ini siapakah yang hendaknya bertanggung jawab ?
Pemerintah melalui dinas terkait hendaknya melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian satwa yang dilindungi, seperti yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konsevasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, yang tegaskan dalam pasal 4  yang berbunyi : Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah serta masyarakat. selain itu juga sangat dibutuhkan peran pemuda dalam menyokong perubahan dan perbaharuan bagi masyarakat, karena pemuda adalah individu yang masih berpikir  produktif, berpikir maju dan membawa perubahan.

Larangan perlakuan tidak wajar terhadap satwa yang dilindungi terdapat dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem Pasal 21 ayat (2) yang berbunyi :
Setiap orang dilarang untuk :
a. Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
b. Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;
c. Mengeluarkan satwa yang dilindungi disuatu tempat di indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar indonesia;
d. Memperniagakan, menyimpan, atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkan dari suatu tempat di indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar indonesia;
e. Menganbil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.

Sanksi pidana bagi orang yang sengaja melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat (2) adalah pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000.00 (seratus juta rupiah) (Pasal 40 ayat [2] UU 5/1990).

Perlu diketahui membunuh dan menangkap satwa yang dilindungi adalah tindak pidana kejahatan konservasi, ada pengecualian bagi penangkapan dan pembunuhan satwa langka ini yaitu dapat dilakukan sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan keperluan penelitian, selain dari pada itu adalah tindak pidana.
 Hutan yang sejatinya menjadi habitat bagi satwa dan Kerinci berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang miliki keanegaragaman Flora dan Fauna yang dilindungi, semoga saja kejadian hari ini tidak terjadi di kemudian hari,  serta masyarakat diberikan pemahaman dan pengetahuan jika terdapat lagi dikemudian hari masuknya satwa ke pemukiman warga untuk segera dilaporkan kepada pihak terkait supaya dapat dikendalikan dan ditangkap untuk dikembalikan ke habitatnya.

Mari bersama kita menjaga dan lestarikan kekayaan yang terdapat di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Share:

0 comments:

Post a Comment

KPU KOTA SUNGAIPENUH

KPU KOTA SUNGAIPENUH

Blog Archive

Support

iklan banner iklan banner