Wednesday, 22 November 2017

Tari Ngagah Harimau Batal Tampil Hut Kerinci, Justru Dapat Perhatian Gubernur di Vestifal Batang Hari




Jambi.Lacaknews- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jambi mengadakan Batanghari River Festival yang diadakan di kawasan Tanggo Rajo, kawasan rumah dinas gubernur Jambi, 22-25 November 2017.

Pembukaan Batanghari River Festival ini dihadiri juga oleh Staf Ahli Kementrian Pariwisata di bidang kebudayaan, unsur Forkopimda Provinsi Jambi, walikota dan bupati di Provinsi Jambi.

Dinas Pariwisata Provinsi Jambi mengikut sertakan Atraksi khas dari kabupaten Kerinci yakni Tari Ngagah Harimau yang sukses memukau perhatian pihak Kementerian Pariwisata, unsur Forkopimda bahkan masyarakat Jambi yang hadir. 

Tarian ini batal tampil di HUT Kerinci. Karna pihak Disparbudpora Kerinci membatalkan secara sepihak penampilan tari Ngagah Harimau yang merupakan salah satu nominasi Pesona Indonesia Kategori atraksi budaya terpopuler.

Tarian ini diadakan dalam acara Ngagah Harimau yang mati di Kerinci. Dipercaya apabila ada harimau mati di daerah Kerinci haruslah digagah oleh masyarakat desa agar harimau yang lain tidak turun ke kampung dan memangsa para manusia.

Dikutip dari berbagai sumber, dikisahkan awal mula tarian ini adalah terjadi sebuah hubungan antara masyarakat Kerinci dan harimau.

Dahulu kala, ceritanya ada seorang pemuda yang menikah dengan harimau dan mempunyai seorang putri bernama Sarimenanti. Setelah menikah dengan harimau, pemuda ini juga menikah dengan gadis desa di Pulau Tengah.

Dahulunya, Pulau Tengah masih bernama Pasmah Tinggi.  Sementara untuk negeri harimau dinamakan Pasmah Rendah. Karena sang pemuda melanggar dan tak menepati janji yang dibuatnya dengan negeri harimau, harimau akhirnya menuntut pembayaran janji. Yaitu, kain 40 kayu berwarna hitam, putih, dan merah berikut emas.

Usai menunaikan pembayaran janji, terbentuk hubungan persaudaraan masyarakat Pulau Tengah dengan harimau. Salah satu kesepakatannya adalah apabila ada harimau mati di hutan, warga haruslah menghormatinya dengan cara menggagahnya.

Ceritanya, sejak itulah ritual Tari Ngagah Harimau berlangsung.  

Tarian ini umumnya dilakukan oleh penari terdiri dari 8 orang gadis. Memakai baju layaknya harimau yang memiliki belang. Gerakan tari juga disertakan dengan gerakan silat pedang. Pada saat menari harimau yang sudah mati diletakkan di hadapan para penari, asap kemenyan tercium dan gendang-gendang beserta gong mulai dimainkan.

Diberilah tukaran atas harimau itu, yaitu mata diganti benda mengkilat, belang diganti kain 3 warna, taring diganti keris, kuku diganti pedang, ekor diganti tombak (kujeu), serta suara diganti dengan gong. Pada saat tarian ini berlangsung, banyak warga desa yang mualai kemasukan roh dari harimau. Mereka berteriak-teriak dan berlagak sama halnya dengan harimau, berguling-guling dan mencakar tanah.

Sekarang ini untuk tetap melestarikan budaya, tarian ini sering dipentaskan di acara-acara desa agar tidak hilang. Untuk harimau yang mati diganti dengan patung harimau.(*)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

Support

iklan banner iklan banner