Friday, 16 February 2018

Profil Pencipta Tari Ngagah Harimau



Lingkungan Keluarga dan Masa Kecil
Harun Nahri/Harun Pasir (Gelar Depati Cayo) dilahirkan di Pulau Tengah Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci – Jambi pada tahun 1941. Nama asli Harun Nahri adalah Harun Pasir. Nahri merupakan nama ayahnya. Ia memakai nama Harun Nahri setelah ayahnya meninggal. Hal itu dilakukannya sebagai tanda penghormatan kepada ayahnya.
Harun Nahri merupakan putra dari pasangan H. Nahri dan Hj. Sa’adiyah. Harun Nahri adalah anak pertama dari sepuluh orang bersaudara. Adapun diantara saudara-saudaranya yaitu Mawardi (almarhum), Sudirman (almarhum), Nursina, Hasmar (Almarhum), Sukiman, Marjuned, Na’imah, Sukanto, dan Mu’alim. Adiknya Mawardi dan Sudirman meninggal sekitar tahun 1957 karena penyakit cacar. Pada tahun 1957, di Negeri Pulau Tengah muncul wabah penyakit cacar yang luar biasa sehingga menyebabkan puluhan penduduk meninggal dunia. Hingga saat sekarang, orang-orang yang sembuh dari penyakit tersebut masih kelihatan bintik-bintik hitam bekas penyakit tersebut.
Ayah Harun Nahri yaitu H. Nahri seorang penduduk asli Negeri Pulau Tengah. Ayahnya meninggal dunia pada tahun 1970-an, sementara ibunya Hj. Sa’adiyah juga penduduk asli Negeri Pulau Tengah dan meninggal pada tahun  2008. Pekerjaan kedua orang tua Harun Nahri adalah petani. Keluarga mereka bukan dari keluarga berada dan kaya. Mereka adalah sebuah keluarga sederhana, namun secara ekonomi sudah mencukupi.
Hingga akhir dekade tahun 1980-an, tingkat ekonomi masyarakat Negeri Pulau Tengah tergolong baik. Hal itu, dikarenakan negeri Pulau Tengah adalah penghasil buah jeruk manis. Pada waktu itu, jeruk manis tumbuh subur di Pulau Tengah. Jeruk Pulau Tengah merupakan jeruk yang sangat baik dan terkenal hingga ke luar Kabupaten Kerinci. Hingga saat ini, bibit-bibit jeruk asli Pulau Tengah masih dibudidayakan oleh beberapa orang penduduk. Namun, pada sekarang tingkat pertumbuhannya tidak begitu baik dan pada umumnya berumur pendek.      
Hampir setiap keluarga di Negeri Pulau Tengah memiliki pohon jeruk, minimal 4 batang. Jika dilihat dari tempat ketinggian, Negeri Pulau Tengah penuh dan ditutupi oleh pohon jeruk. Itulah keistimewaan Negeri Pulau Tengah hingga akhir tahun 1990-an. Memasuki tahun 1990-an, pohon jeruk tersebut mulai musnah dan diganti dengan tanaman baru yaitu jambu air. Sebagaimana pohon jeruk, pohon jambu air tumbuh subur dan menutupi Negeri Pulau Tengah. Selain itu, sebahagian besar penduduk Negeri Pulau Tengah memiliki ladang Kulit Manis (Cassiavera). Hingga saat ini, kebun-kebun di Kabupaten Kerinci ditanami dengan tanaman kulit manis. Pohon Jeruk dan Kulit Manis menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat Pulau Tengah. Sekarang kedua komoditas tersebut tidak dapat diandalkan lagi oleh penduduk.
Berbicara tentang masa kecil Harun Nahri, banyak pengalaman-pengalaman menarik yang dilaluinya. Pada masa agresi militer Belanda II tahun 1949, Harun Nahri bersama keluarga dan masyarakat Pulau Tengah harus tinggal di hutan hingga berbulan-bulan karena situasi perang. Pada waktu itu, sebahagian besar penduduk mengungsi ke arah sebelah selatan Koto Putih (Telago). Karena situasi dan kondisi pada waktu itu, Harun Nahri dan keluarganya bersama para pengungsi di Koto Putih harus berpindah-pindah ke arah timur hingga ke ladang Plok Panjoa sebelah selatan desa Jujun sekarang (sekitar 5 Km dari pusat pemukiman penduduk Pulau Tengah). Situasi perang dan tinggal di pengungsian mewarnai masa kecil Harun Nahri.
Harun Nahri menikmati masa kecilnya sebagaimana anak-anak di sekitar lingkungannya. Harun Nahri merupakan anak yang sangat disayangi di kalangan keluarganya. Harun Nahri adalah sosok yang dari kecilnya banyak bertanya dan senang mengobrol. Selalu saja ada bahan yang ingin dibicarakannya. Sebagai anak yang disayangi, lingkungan keluarga memberikan kebebasan bagi Harun Nahri untuk berekspresi dan bertindak selama yang dilakukannya tidak menyimpang.
Harun Nahri bermain dengan teman-temannya. Pada waktu kecil, ia senang mencari ikan di sungai-sungai kecil bersama teman-temannya. Selain itu, Harun Nahri pada waktu kecil sangat suka memperhatikan beberapa warga yang bekerja di sawah. Hal itu disebabkan adanya gerakan mencangkul yang dilakukan secara serentak oleh banyak orang dan kemudian diiringi dengan nyanyian-nyanyian. Perilaku tersebut dilakukan penduduk untuk menambah semangat dalam bekerja. Ia pun sering mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh warga yang sedang bekerja secara gotong royong itu.
Pada waktu itu, irama lagu sering digunakan penduduk untuk menambah semangat dalam bekerja. Dalam bergotong-royong seperti menderek kayu-kayu besar untuk kebutuhan pembangunan masjid, sering dinyanyikan lagu-lagu secara serentak. 
Perkenalan dengan seni tradisional juga dilalui Harun Nahri dalam lingkungan keluarga. Sejak kecil ia telah diperkenalkan oleh kakeknya Su’ib Maruf dengan kesenian Seruling Bambu. Selain itu, kesenian Seruling Bambu juga diperkenalkan oleh Ustadz Arifin tempat ia belajar mengaji. Pada waktu itu, kesenian seruling bambu banyak digemari dan berkembang dalam masyarakat Pulau Tengah.
Faktor dalam lingkungan keluarga ikut mendukung proses pembentukan kreativitas kesenian pada diri Harun Nahri. Orang tua Harun Nahri adalah seorang yang juga berkecimpung dalam sistem adat di Pulau Tengah.

Latar Belakang Pendidikan
Harun Nahri termasuk anak yang cerdas. Ia memiliki daya ingat yang tinggi. Pada tahun 1950, ia masuk Sekolah Rakyat (SR) di desa Koto Tuo Pulau Tengah. Di sekolah tersebut, ia dikenal sebagai seorang anak yang pintar dan berprestasi. Sementara pendidikan agama lebih banyak ia dapatkan dari orang tuanya di rumah. Selain itu, ia juga belajar silat. Di Negeri Pulau Tengah pada waktu itu banyak berdiri perguruan-perguruan silat. Dalam hal ini, sangat hina bagi pemuda-pemuda Pulau Tengah kalau tidak bisa silat. Pada masa itu berkembang beberapa aliran silat, seperti Kuntao, Sinjing, dan Terlok. Kondisi demikian mendorong Harun Nahri terlibat dalam kegiatan persilatan, dalam hal ini ia tergabung dalam aliran silat Terlok.
Selain aliran-aliran silat tersebut, terdapat juga aliran Cilak Usiu (silat dusun) yang lebih dikenal dengan istilah Cilak Imo (Silat Harimau). Silat Harimau dipelajari oleh orang-orang tertentu karena tidak sembarangan orang yang bisa menguasainya, syarat-syarat yang harus dipenuhi sangat berat seperti menangkap bayangan elang yang sedang terbang dan bertapa di dalam rimba selama beberapa hari. Untuk menguasai aliran silat tersebut, dibutuhkan usaha dan perjuangan yang keras. Aliran silat tersebut biasanya diberikan kepada para pemuda yang telah menginjak usia dewasa terutama bagi para pemuda yang akan merantau sebagai bekal untuk melindungi diri. Harun Nahri sendiri memperoleh silat harimau setelah menginjak usia dewasa.
Setamat SR, pada tahun 1957 Harun Nahri melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Kota Sungai Penuh yang terletak di Desa Hamparan Rawang sekitar 17 Km dari Negeri Pulau Tengah. Karena lokasi sekolah yang jauh dari rumah, Harun Nahri terpaksa tinggal di Sungai Penuh dengan menyewa rumah bersama teman-temannya. Seminggu sekali ia kembali ke Pulau Tengah dengan berjalan kaki.
Di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) tersebut, prestasinya tetap bagus. Pada saat ini bakat seninya mulai kelihatan dan ia pun mulai lebih serius mendalami bidang seni. Mamaknya Jamaludin Asnawi yang tinggal di Malaysia mengetahui bahwa Harun Nahri senang dengan musik. Pada saat pulang kampung, mamaknya memberikan oleh-oleh sebuah Biola. Harun Nahri sendiri bingung apa yang harus dilakukan dengan biolanya tersebut. Biola tersebut merupakan sarana bagi Harun Nahri untuk meningkatkan kemampuannya di bidang seni.
Harun Nahri hanya belajar sedikit kepada mamaknya tentang cara memainkan biola karena mamaknya harus kembali ke Malaysia. Biola tersebut, sering di bawa ke sekolah untuk dipelajari bersama teman-temannya dengan harapan ada salah seorang temannya yang menguasai alat musik tersebut. Namun, tidak seorang pun teman-temannya yang mengerti dengan biola.
Setiap jam istirahat atau diwaktu senggang ia rajin memainkan biolanya sendiri berbekal dari apa yang telah diajarkan oleh mamaknya. Pada saat Harun Nahri asik-asiknya memainkan biola di pintu kelas, terlihat oleh seorang guru. Guru itupun menyarankan kepadanya untuk menemui seorang yang bernama Maknur, ahli musik biola di Kabupaten Kerinci pada saat itu. Maknur tertarik dengan minat yang dimiliki Harun Nahri dan kawan-kawannya, sebab pada saat itu sulit sekali ditemui orang yang bisa bermain biola di Kabupaten Kerinci. Sejak saat itu, Harun Nahri sering berkunjung ke rumah Maknur untuk mempelajari alat musik biola. Hingga saat ini, hubungan Harun Nahri dengan keluarga Maknur masih terjalin dengan baik. Harun Nahri berusaha membalas budi baiknya dengan memberikan bimbingan kepada salah seorang anak Maknur yang memilki bakat di bidang kesenian lagu-lagu daerah Kerinci.
Pada tahun 1959, Harun Nahri harus pindah sekolah ke SMP Bakti di Sungai Penuh. Hal itu disebabkan oleh hukuman yang diberikan oleh guru yang menjadi wali kelasnya sendiri karena Harun Nahri melanggar peraturan yaitu terlambat datang ke sekolah. Harun Nahri, sebagai seorang anak yang mulai menginjak usia remaja, memiliki sikap dan perilaku yang labil. Pengaruh dari teman-teman dan pemuda di sekitar rumahnya yang  mengatakan bahwa pantang bagi seorang laki-laki Pulau Tengah ditampar oleh seorang perempuan. Tidak ingin dianggap pengecut, Harun Nahri membalas perbuatan tersebut dengan melontarkan anak peluru ketapel dari batu kepada gurunya tersebut. Perbuatan tersebut diketahui oleh guru-guru lainnya sehingga mengakibatkan Harun Nahri dikeluarkan dari sekolah. Meskipun demikian, Harun Nahri sempat meminta maaf kepada guru tersebut setelah diberi pengertian oleh orang tuanya. Orang tua Harun Nahri selalu menekankan sikap terbuka kepada Harun Nahri. Sikap tersebut menjadikan Harun Nahri seorang individu yang mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan.
Pada tahun 1961, Harun Nahri melanjutkan pendidikannya ke SMA swasta yang bernama SMA Harapan. Di SMA Harapan Ia belajar sore hari karena pagi hari sekolah tersebut dipakai untuk SGA. Pada saat belajar di SMA tersebut ia mulai bergaul dengan orang-orang yang memiliki bakat seni seperti Iskandar Zakaria yang sekarang menjadi seorang Budayawan dan seniman di Kabupaten Kerinci. Dengan demikian, Harun Nahri dapat bertukar pikiran dan berbagi ilmu dengan sesama orang yang memiliki bakat seni. Hingga saat ini, keduanya masih berkomunikasi dengan baik, saling mengisi kekurangan dan sebagainya.
Di masa SMA, aktivitas Harun Nahri di bidang seni meningkat, terlebih setelah Ia bersama teman-temannya Iskandar Zakaria, Efendi Suhur, Muklis Jalil dan Janwar membentuk sebuah group musik, akibatnya ia pun terkadang meninggalkan sekolah. Semua teman-temannya itu berasal dari keluarga terpandang dan kaya. Oleh sebab itu, mereka mampu menyediakan alat-alat musik dan mendirikan sebuah group musik.
Karena kesibukan latihan kesenian,  prestasi sekolah pun menurun. Hal itu pula yang menyebabkan Harun Nahri putus sekolah ketika duduk di kelas II pada tahun 1962. Meskipun telah putus sekolah, ia tetap berkomunikasi dengan teman-temannya terutama Iskandar Zakaria. Aktivitasnya dalam bidang kesenian terus dijalankan oleh Harun Nahri karena kesenian telah menjadi kegemaran baginya.
Setelah putus sekolah, Harun Nahri hanya tinggal di Pulau Tengah membantu pekerjaan orang tuanya. Harun Nahri kadang menghabiskan waktu senggangnya dengan duduk-duduk di kedai-kedai kopi dan mengobrol dengan siapapun yang ia temui. Seperti telah diuraikan di depan bahwa sejak kecil Harun Nahri sangat senang mengobrol. Perilaku seperti itu membuat Harun Nahri menguasai mantra-mantra yang terdapat di Pulau Tengah. Dari obrolan-obrolan itu, Harun Nahri memperoleh berbagai informasi bahkan informasi tentang dunia mistik.
Pada tahun 1963, Harun Nahri menikah dengan Siti Jasera dan memperoleh lima orang anak, yaitu Muhaddiz sebagai anak pertama,  kemudian Eliya, Harjadinata, Mansurdin dan Asril. Karena Muhaddiz sebagai anak pertama, maka di lingkungan tempat tinggalnya Harun Nahri dipanggil ayang Muhaddiz (Ayah Muhaddiz). Ada kecenderungan penduduk di Negeri Pulau Tengah untuk tidak menyebutkan nama seseorang yang telah menjadi seorang ayah, melainkan dipanggil ayah yang diikuti dengan nama anak pertama. Muhadiz merupakan anak satu-satunya yang menurunkan sifat ayahnya yaitu memiliki bakat di bidang seni.
Di samping itu, periode 1960-an, Harun Nahri telah belajar ilmu kebatinan kepada Mangku Abu. Karena mendalami ilmu kebatinan, Harun Nahri pun mulai diperkenalkan dengan istilah Ninek Tragea (Nenek Telago) yang merupakan salah seorang nenek moyang penduduk Pulau Tengah yang dianggap keramat dan Mangku Gunung Rayo Raja Kerajan Harimau di Negeri Pasmah. Ilmu kebatinan yang dipelajari Harun Nahri itulah yang kemudian menjadi pendukung terhadap beberapa karya seni yang dihasilkannya.   

Pergaulan Dalam Masyarakat
Di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, Harun Nahri lebih dikenal dengan panggilan Ayang Muhaddis (Ayah Muhaddis). Dalam pergaulan sehari-hari, sejak kecil Harun Nahri dikenal sebagai orang yang jujur, apa adanya serta mudah bergaul karena ia memiliki sifat terbuka dan senang berbicara dengan siapa saja tanpa memandang usia, kedudukan dan sebagainya serta tidak pernah menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain. Disela-sela perbincangan, Harun Nahri sering menyisipkan cerita-cerita dan lagu-lagu lucu yang membuat semua orang tertawa. Oleh karena itu, Harun Nahri juga dikenal sebagai orang yang pintar menghibur orang lain. Hal itu pula yang menyebabkan ia disenangi oleh banyak orang terutama di kalangan murid-muridnya karena sifatnya yang pandai menghibur.
Karena sikapnya yang demikian, sejak tahun 1974 Harun Nahri diangkat menjadi juru tulis adat hingga tahun 1994 atau selama 20 tahun. Di Negeri Pulau Tengah, para pemuka adat yang dipilih oleh rakyat termasuk juru tulis adat adalah orang yang benar-benar bersih dan memiliki sikap dan perilaku baik dan menunjukkan jiwa kerakyatan yang tinggi. Harun Nahri dikenal sebagai seorang yang pemurah dan senang membantu orang lain dengan ikhlas.   
Selama menjadi juru tulis adat, maka Harun Nahri memperoleh berbagai informasi dan memiliki pengetahuan tentang adat tradisional dan seni budaya Pulau Tengah. Dari sanalah ia mulai mengenal Upacara Ngagoah Imo (Mengagah Harimau) secara lebih mendalam. Bergaul dengan orang-orang adat membuat Harun Nahri mengenal cerita-cerita rakyat seperti RanjiTmbea (Tambo).
Karena memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, Harun Nahri menggali budaya-budaya lama. Sebagian besar informasi didapatkan dari orang-orang tua seperti Adi Abdullah Sani (Urang Tuo). Sejak saat itu, aktivitas di bidang seni tradisional mulai dilakukannya. Berbekal dari bakat seni yang tinggi, Harun Nahri  berusaha melestarikan kesenian tradisional terutama tari-tari tradisional yang yang terdapat pada saat pelaksanaan upacara-upacara adat. Lingkungan sosial tradisional telah mengantar Harun Nahri menjadi seorang seniman tradisional.

Harun Nahri adalah sosok individu yang lahir dalam kehidupan masyarakat yang diwarnai oleh lingkungan sosial budaya tradisional. Lingkungan sosial budaya tradisional yang mengandung berbagai unsur seni telah memberikan pengaruh terhadap karakter dan kreativitas pribadi Harun nahri hingga memiliki bakat yang tinggi dibidang seni tradisional. Selain itu, lingkungan pergaulan di sekolah ikut berperan dalam mengembangkan bakat seni yang dimiliki Harun Nahri. Lebih utama adalah lingkungan keluarga yang memberikan kebebasan dan dukungan bagi Harun Nahri untuk mengekspresikan diri.             
            Harun Nahri adalah seorang seniman yang paling berbakat di Negeri Pulau Tengah. Ia peka terhadap lingkungan sosial budaya dan alam yang ada di sekitarnya. Berbagai sikap dan perilaku masyarakat di sekitarnya menjadi bahan dalam setiap karya seninya. Oleh karena itu Harun Nahri dijuluki sebagai seorang seniman alam. Ia telah menggali dan menghasilkan berbagai bentuk karya seni yang menarik dan unik yaitu tari Satai Ninek Keramak, Ya Dahdan, Mengagah Harimau, Ratib Saman, Turun Ke Sawah, Tuhau Kelamboa, Rangguk Ayok permainan Lukah Gilo, Ngadiu Saa dan irama Perdoah.  
          Harun Nahri memiliki keinginan yang besar untuk mengembangkan kesenian tradisional Pulau Tengah. Usaha tersebut dilakukan dengan cara melatih para generasi muda melalui wahana sekolah sebagai sasarannya. Dalam perkembangannya, Harun Nahri memiliki keinginan mengembangkan seni dan budaya tradisional secara lebih luas, teratur dan kontinue. Usaha tersebut diwujudkan dengan membentuk sanggar seni Telago Biru sebagai wadah yang menampung para pemuda dalam mempelajari kesenian tradisional Pulau Tengah. berbagai macam karyanya diajarkan kepada para pemuda yang tergabung dalam sanggar tersebut.
            Kemampuan yang dimiliki Harun Nahri telah menjadikannya sebagai seorang seniman yang diakui di Kabupaten Kerinci. Harun Nahri adalah sosok yang dibutuhkan dalam usaha memajukan pariwisata budaya Kerinci. pada tiap-tiap acara Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci, Harun Nahri menjadi pelatih dan koreografer tari terutama tari massal.
Share:

0 comments:

Post a Comment

KPU KOTA SUNGAIPENUH

KPU KOTA SUNGAIPENUH

Blog Archive

Support

iklan banner iklan banner